Tampilkan postingan dengan label petuah bijak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petuah bijak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

DESKRIPSI KITAB SUCI ISLAM TENTANG KIAMAT



Saya sempat khawatir terhadap merebaknya fenomena ‘ujian’ yang dihadapi oleh bangsa kita. Mulai dari Tsunami, Gempa, dan yang sedang hangat adalah Meletusnya Gunung Merapi. Tak hanya itu beberapa gunung lainnya pun ikut-ikutan meningkatkan aktivitasnya, sehingga menjadi awas dan waspada. Apa yang lebih mengkhawatirkan? Sebenarnya sebagian kalangan termasuk saya, lebih mencemaskan bencana global yang terlanjur menggejala seiring bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Ya, mereka bilang dunia sudah menua dan akan terjadi kiamat segera.
Deskripsi tentang Kiamat telah dikupas sejumlah agama, dan memberi kesimpulan bahwa Kiamat akan memusnahkan Human Race, Ras Manusia di Bumi. Namun maaf sekali untuk membatasi masalah ini, saya hanya akan melihat khusus dari perspektif Kitab Suci Muslim saja.

Istilah Kiamat dalam bahasa Indonesia sebetulnya kurang tepat diartikan oleh kita semua. Kiamat diambil dari bahasa Al Qur’an atau bahasa Arab, dari asal kata “Qiyam” yang artinya “berdiri” atau “bangkit”. Nah, dalam bahasa Al Qur’an, makna “Al Qiyaamah” adalah “Kemusnahan makhluk di Bumi” secara umum disebut “As Sa'ah”, nama lain misalnya “Al Qaari'ah” artinya “The Great Shock” atau “Al Waaqi'ah” artinya “Global Disaster”. Ini disebut TAHAP KE-1.
TAHAP KE-2 adalah ” ketika tulang belulang manusia hingga jarinya disusun kembali dengan ketelitian yang tinggi, bangkit kembali, dan kemudian pindah kedimensi lain, tiba-tiba semua makhluk berdiri menunggu dipadang yang sangat luas - Pengadilan Akhir”.

Mayoritas Muslim memiliki interpretasi bahwa yang disebut KIAMAT adalah kehancuran Alam Semesta, seluruh Jagad Raya, ini diyakini semenjak ratusan tahun yang lalu mungkin ribuan tahun yang lalu. Awalnya termasuk saya juga. Dapat dipahami, karena para Ulama dan para guru agama baik disekolah maupun di Masjid-masjid mengajarkan demikian termasuk para penulis buku Islam.
Namun ketika kita teliti terhadap belasan surat dalam Al Qur’an dengan latar belakang astronomi dan astrofisika , maka kita akan mendapat kesimpulan bahwa musnahnya umat manusia di Bumi berkaitan dengan “sekaratnya Bintang Matahari” yang mulai kehabisan Hidrogen bahan bakarnya. Terbaca jelas pada surat At Takwir (Menggulung / Berakhir), ayat 1 (The Folded Up, 81:1); Bahwa karakter yang ditunjukkan adalah sekarat hingga padamnya Matahari.
Singkat kata, Ustadz Arifin menjelaskan; bahwa Al Qur’an menggambarkan As Saa'ah, proses musnahnya manusia dan sekaratnya Matahari sebagai berikut (dalam terjemahan bebas):

Tahap 1:
Ketika Bumi berguncang dan benar-benar berguncang, demikian pula planet-planet berguncang sekeras-kerasnya kesemua arah. Ketika itu langit lemah (keseimbangan antara gaya nuklir Matahari dengan gaya gravitasinya terganggu). Dan langitpun terbelah (atmosfir pecah). Apakah yang kau ketahui tentang The Great Schock (Al Qaari'ah: Peristiwa yang memukul jantung)? Yaitu - pada HARI dimana Manusia diterbangkan keangkasa bagaikan anai-anai, dan gunung-gunungpun dihambur-hamburkan bagai bulu domba. Beradu dan hancur. Air lautpun meluap keatas (dan tidak kembali lagi). Isi kuburanpun dibongkar diaduk berkali-kali. Bumi melepaskan segala isinya (keangkasa). Bumipun menjadi gundul dan kosong (tidak ada gunung, bukit, sungai, laut, ataupun tumbuh-tumbuhan lagi – karena semua ditarik keangkasa luar oleh gravitasi Matahari).

Tahap 2:
Bulan disatukan dengan Matahari (dihisap oleh gravitasi Matahari). Dan Matahari digulung (berakhir dan padam sinarnya). Dalam tahap ini manusia menjalani “kehidupan ke-2” sudah pindah kedimensi lain. Sulit dicerna seperti tidak masuk akal, tetapi itulah yang diberitakan Kitab Suci Islam.

Dalam bahasa sains proses tersebut memakan waktu yang lama, misalnya ketika Matahari Menjadi Red Giant (Raksasa Merah) membesar tetapi kehilangan sinarnya hingga padam (White Dwarf) memakan waktu lebih dari 500 juta tahun. Saat mulai Bulan kehilangan sinarnya hingga dihisap Matahari juga memakan waktu puluhan tahun lebih.

Ajaib, penjabaran lengkap tersebut, ternyata serupa dengan simulasi komputer yang dilakukan oleh para astrofisikawan ketika ingin mengetahui, nasib Tata Surya di akhir siklus pertumbuhannya. Terlihat kesimpulan keilmuan yang mereka gunakan sama dengan penjelasan Al Qur’an, Sumber Utama keilmuan generasi Muslim.

Tidak satu atau dua saja, Al Qur’an menggambarkan fenomena alam yang dahsyat. Kitab Suci ini juga, misalnya, menggambarkan fenomena ledakkan Supernova atau Planetary Nebula - "ledakkan yang menghasilkan langit menjadi warna merah mawar seperti kilapan minyak (The Merciful, 55:37) atau Bintang Ganda pada surat Bintang (The Star), yang disebut "Asy Syi'ra" atau Cirius Star“ - hanya ditulis dalam 1 ayat. Lihat notes saya, yang telah saya post waktu lalu.

Lalu kapan As Sa'ah itu terjadi?

Saat Bintang Matahari mulai menipis bahan bakarnya; hidrogennya habis. Hal ini masih cukup lama, jika diukur dengan waktu standar Bumi. - Selanjutnya saya lebih suka menyebut kiamat dengan bahasa arab yang elegan; As Sa’ah. -
Dengan demikian jika ada bencana dahsyat di Bumi sebelum itu, seperti Tsunami, Gempa, Gunung Meletus, Angin Topan – Tornado, tidak akan memusnahkan kehidupan dilingkungan Tata Surya, dan itu berbeda dengan deskripsi “As Sa'ah” sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Suci Muslim, Al Qur’an.

Dalam bahasa agama khususnya Islam. Terjadinya Kiamat (As Sa'ah) tidak diketahui pasti oleh manusia. Namun Tuhan memberi tanda-tanda, baik itu fenomena sosial maupun fenomena alam, yang memberi gambaran bahwa “As Sa'ah” makin dekat. Tanda besar yang diberikan oleh Al Qur’an - salah satunya - adalah “ Keluarnya 'Daabbah' atau (creature) "bisa binatang serangga ataupun binatang yang lebih besar". Sejenis mahluk yang akan mengatakan pada mereka bahwa Kiamat pasti terjadi ” (The Ant, 27:82). Di Indonesia, Kamus Arab – Indonesia, pengertian "Daabbah" menjadi sempit, karena diterjemahkan dengan "binatang melata".

Lalu Kapan Itu Akan Terjadi?

Deskripsi National Geographic: Ketika Bumi usianya senja, maka akan ada peristiwa alam dimana Magnet Bumi melemah atau bahkan mungkin berbalik arah. Fenomena alam yang sangat aneh itu akan menimbulkan gangguan bagi lingkungan hidup di Bumi, termasuk diantaranya sejumlah binatang yang mengandalkan sistem navigasinya – untuk menentukan arah – berdasarkan aliran medan magnet Bumi. Sebut saja, berbagai macam serangga yang sangat kecil, sejumlah jenis burung, ikan, dan lebah sangat bergantung pada system navigasi ini. Gangguan medan magnet Bumi yang mendekati nol menyebabkan perilaku binatang menjadi liar dan ‘dis-oriented’. Misalnya, burung dara, kupu-kupu, lebah madu, penyu laut (caretta carebba), lumba-lumba, paus, ikan salmon, udang besar, dan tikus tanah Zambia. Reaksi awal adalah muncul dari sarangnya. Semua keluar dari sarang nyaman mereka.

Sedang, fenomena sosial yang akan ditunjukkan sebelum Kiamat, merujuk pada Hadist Nabi; catatan perkataan Nabi yang diceritakan kembali oleh sahabat. Hadist Riawayat Muslim, antara lain: (1) Musnahnya peradaban manusia (2) Hilangnya agama-agama dunia, dan (3) Ka’bah, Kiblat Muslim, hancur rata dengan tanah.
Hancurnya peradaban manusia, salah satunya karena peperangan besar, ada yang menyebut Nuclear War yang akan terjadi di Bumi, dalam beberapa riwayat diberitakan, manusia akan kembali ke "jaman besi". Oleh karena itu kita bisa bertanya. Bukankah sekarang ini kita masih mengenal agama-agama dengan baik? Ada Hindu, Budha, Yahudi, Nasrani dan Islam. Bukankah peradaban dunia masih ada? Dan bukankah Mekkah dan Ka’bahnya masih berdiri. Magnet Bumi-pun masih berjalan dengan baik, walaupun ada indikasi melemah, sejak tahun 1987 hingga tahun 2000-an - berkurang sekitar 10 % -.

Dengan demikian, Kiamat Besar (As Sa'ah), yang akan memusnahkan umat manusia – datangnya - masih sangat lama. Tetapi bencana (Kiamat) kecil dan sedang, seperti bencana alam, musibah dan kematian, datang sewaktu-waktu. Termasuk hari ini, gunung Merapi Meletus dan terjadi Tsunami di Mentawai. Itulah yang nyata dihadapi sekarang.
Ditulis Ulang memperingati Meletusnya Gunung Merapi di Jawa dan Terjadinya Tsunami di Mentawai Sumatra.
Mudah-mudahan Allah senantiasa menguatkan Iman kita, sehingga Hanya padaNYA lah kita wajib percaya. Saya Tutup dengan ucapan Alhamdulillah. Allahu Akbar!

Karanganyar Demak, 03 November 2010
Noor Muhammad Arief

Kamis, 11 Maret 2010

PAPA, KEMBALIKAN TANGAN ITA..


Berapa dalam rasa sayang kita terhadap Anak-anak kita? Saya ingin bertanya, dapatkah rasa sayang itu diukur dengan uang? Atau bahkan menggadaikan jiwa dan tubuh mungil anak kita dengan ukuran duniawi, atau bahkan kesalahan-kesahlahan mereka begitu tak terampuni? Begitu pongah rasanya, ketika hak anak-anak kita terkebiri, nahkan oleh kita sendiri. Subhanallah, jangan sampai sahabatku yang dirahmati Allah. Simak kisah dari negeri seberang Malaysia ini:



Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena ada perayaan Thaipusam sehingga jalanan macet. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu... !" "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu papa.... cantik kan!" katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa.
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam...
" jawap pembantunya ringkas."Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.
"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Papa.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.
"Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

http://giealfonsin.blogspot.com/2010/01/kisah-sedih-seorang-anak-kecil.html
Sejuta senyum dari anak-anak manis ini, rasanya terkoyak hati jika mereka disakiti. Apalagi oleh orang tua mereka sendiri. Astagfirullah...
Walau sederhana, gadis imut ini penuh dengan sejuta harap dan cita-cita. Sebagai orang tua, tegakah menganiaya dia?

Sabtu, 01 Agustus 2009

Rumah Rasul VS Rumah Kita



dari status Facebook ustadz Safri Adi : beliau mengisahkan...

Gambar-gambar yang sedang anda saksikan ini adalah rumah tinggal Junjungan kita Rasulullah SAW dan Sayyidah Khadijah as yang dihuni bersama selama 28 tahun. Subhanallah…karena kita dapat melihat meski lewat photo kesederhanaan huniannya.
Denah
Astaghfirullah…….Masya Allah, peninggalan rumah Nabi junjungan kita ini sudah rata dengan tanah, akibat kepentingan pembangunan Kota.
Amati kesederhanaan baik segi konstruksi dan struktur serta bentuk dan tata ruangnya. Dan bandingkan dengan rumah ANDA..!!



Sedang melakukan pembongkaran
terhadap Rumah Rasul SAW/
Sayyidah Khadijah as
Ketika mengamati satu persatu gambar photo ini, ada sesuatu yang sangat menarik. Perhatikan reruntuhan MIHRAB yang menunjukan ruang tersebut adalah ruang Musholla. Inilah yang saya maksud sebuah sunnah/teladan Rasul yang tampak jelas oleh kita yang secara umum belum memasyarakat di dalam rumah-rumah kita.

Memang belum dijumpai hadist yang spesifik meriwayatkan tentang MUSHOLA dalam rumah tinggal. Namun yang tampak ini adalah sesuatu bukti untuk menjadi pemikiran kita yang mengaku sebagai UMMAT RASULULLAH SAW.
Tampak dari dekat sisa2 pembongkaran
Di RUANG KHUSUS inilah Rasulullah SAW setiap hari sholat kecuali sholat wajib sebagaimana sabdanya “Paling afdol (utama) shalat seorang (adalah) di rumahnya kecuali (shalat) yang fardhu (lima waktu). (HR. Bukhari dan Muslim). Sebagai penegas dari Firman Allah “….Hanya yang MEMAKMURKAN MASJID-MASJID ALLAH ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian…..”(At-Taubah:18). Dan diruang inilah Rasulullah dan keluarganya setiap hari bermunajad pada ALLAH SWT.
Kamar Rasul
Lalu dimanakah keterkaitannya dengan RUMAH KITA???.
Sebagai arsitek sudah sangat sering merancang rumah tinggal disamping bangunan gedung lainnya. Dan andapun pasti sering pula melihat rencana rumah mulai dari denah hingga tampak bangunannya. Namun berapa banyakkah bangunan-bangunan rumah yang pernah kita lihat tersebut menyediakan ruang yang khusus untuk ibadah bagi penghuninya ??. MARI RENUNGKAN…, ketika akan membangun ataw merenovasi rumah, kemegahan tata ruang manakah yang paling ingin tonjolkan??. Bayangkan, mulai dari teras, ruang tamu, keluarga, kamar tidur, dapur, ruang HOME THEATER, wc/kamar mandi, ruang seterika, gudang, kamar PEMBANTU, GARASI, taman dan gazebo, bahkan KANDANG BINATANG pun mungkin jadi pemikiran. Lalu dimanakah ruang khusus yang mestinya lebih dimuliakan dibanding ruang lainnya untuk MENJAMU ALLAH TA’ALA setiap hari yang telah memberi segala apa yang di miliki??. Paling tidak wanita 5 kali sehari ruang ini kita gunakan, belum lagi untuk sholat sunnah lainnya. Dan di ruang disucikan inilah kita tempatkan dan membaca Al Qur’an dan tafsir (maaf bukannya diatas lemari…??) serta buku2 lain yang membangkitkan nilai2 islami.
Mihrab ruang musholla Rasul
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya."(Ali ‘Imran:92).

Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24)

Dengan adanya ruang khusus ini, Insya Allah kekhusukan ibadah kita akan lebih mudah tercapai. Adanya ruang ini tidaklah perlu besar maupun luas, paling tidak dapat digunakan untuk anggota keluarga. Dan ini merupakan bukti kecintaan dan penghambaan kita padaNya sebagimana Rasulullah contohkan pada rumahnya bersama Sayyidah Khadijah as.

Mungkin akan ada beberapa alasan mengapa musholla tidak dapat dibuat dalam rumah yang terbatas baik luas maupun lahannya. Hal seperti ini adalah pengecualian, namun kebersihan dan kesucian lantai tempat biasa kita sholat harus selalu terjaga dari kotoran terlebih najis (faktor anak kecil dll).

Wahai para suami….buatkanlah istrimu musholla dalam rumahmu,
biarkanlah dia bermunajad kepada Sang Al Khaliq disitu…
biarkanlah ia tumpahkan airmatanya memohon kelancaran usaha dan urusanmu….

Ya Allah… sungguh! kami malu pada-Mu…
Namun dengan segala kerendahan kami bersimpuh di hadapanMu
Memohon segala petunjuk dariMu
Berlindung dari segala kekhilafan dan kekhilafan yang bersemayam di hati
Tiada kekuatan yang mampu menolak segala keburukan kecuali berasal dariMu
Sesungguhnya kami malu
Meski hanya sekedar lintasan hati tuk meminta kepadaMu

Ya Allah…
Setiap detik Engkau penuhi kebutuhan kami
Nafas yang kami hirup
Tiada pernah Engkau minta tuk ganti dan Kau henti
Sedang kami enggan berbagi dan seringkali berhitung atas berkurangnya materi
Dan bila Engkau cukupkan materi…kami lupa dan lalai pada Mu

Ya Allah…
Sesungguhnya catatan maksiat diri kami terlalu panjang
Tak mampu terhitung sebanyak butiran pasir maupun butiran embun yang Enkgau teteskan
Dan amal baik kamipun belum tentu mampu menjadi penyeimbang



Ya Allah…
Masih layakkah kami meminta?
Sedangkan hakMu sebagai Tuhan lebih banyak kami abaikan

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka." (QS. 39:8)

"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. (Al An’aam:70)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Hud:15-16)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takaatsur:1-8)

Baarakallaahu lakumaa wa baaraka 'alaikum
'May Allah swt shower His blessings upon you' Amin Sum'Aamin!
Wassalamu alaikum wa rahmatullah wabarakatuh


Kamis, 23 Juli 2009

Sebuah Esensi Kejiwaan

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang yang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat, dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat, siapakah diantara kalian yang gila.” (QS. Al-Qalam: 1-6)


Pada dasarnya jiwa manusia bersifat negatif dan buruk. Dominasi keburukan jiwa tersebut adalah Inkonsistensi dan ketamakan. Sikap inkonsistensi jiwa berasal dari kebodohan dan ketamakannya berasal dari hasrat yang membara. Sebagaimana diketahui bahwa Manusia diciptakan dalam keadaan zalim dan bodoh. Disinilah keberadaan akal pada diri manusia mampu mengubah sifat buruk jiwa dan membuatnya konsisten (istiqomah) dalam kebaikan dan kecukupan (qona’ah) dalam menjalani hidup.

Akal mempunyai peranan yang sangat penting. Akal yang merupakan potensi tertinggi yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia, dimana dengan kekuatan akal, manusia memiliki daya pikir atau nalar yang tujuannya untuk mengetahui, memahami, memecahkan persoalan, bertindak dan lain sebagainya.

Firman AllahSWT (yang artinya):

“Pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah kematiannya, dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berakal.” (QS. Al-Zatsiyah: 5).

Lihatlah ketika Al-Qur’an menjelaskan tentang peranan akal pada ayat ini, diawali dengan uraian fenomena saintifik, seperti pergantian siang dan malam; kondisi sebelum dan sesudah air hujan turun dari langit; tumbuhan yang mati lalu hidup kembali akibat turunnya hujan dan terakhir tentang kisaran angin. Semua itu menunjukkan adanya siklus kehidupan dan daya keterikatan antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya, yang hanya dapat dimengerti dengan akal.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman (yang artinya):

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya, sebagai rahmat daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13)

Dengan akal manusia dapat membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Dengan akal manusia dapat mengetahui sebab-sebab didapatkannya hal-hal baik atau sebaliknya mengetahui penyebab diperolehnya hal-hal buruk dan dengan akal juga lah yang membedakan antara manusia dan hewan. Oleh karena itu hendaknya manusia selalu memanfaatkan akalnya untuk berfikir. Berfikirlah tentang segala hal, berfikirlah tentang ciptaan Allah SWT dan jangan berfikir tentang Zat Allah SWT.

Ibn ‘Abbas r.a berkata, “Suatu kaum memikirkan Allah SWT. Rasulullah lantas bersabda, ‘Pikirkanlah ciptaan Allah, jangan berpikir tentang Zat Allah, karena kalian tidak akan pernah sanggup memikirkannya.’”

Asy-Syafi’i r.a pernah mengatakan: “Pandangan yang baik terhadap berbagai hal adalah keselamatan dari tipuan. Keteguhan dalam pendapat adalah keselamatan dari kelalaian dan penyesalan. Menimbang dan berpikir menyingkapkan keteguhan hati dan kekuatan dalam pandangan bersama orang-orang bijak meneguhkan dalam diri dan merupakan kekuatan dalam pandangan. Oleh karena itu, berpikirlah sebelum ber-azam (berniat untuk melakukan sesuatu). Lakukan kajian secara mendalam sebelum menyerang dan bermusyawarahlah sebelum maju.”

Firman Allah (yang artinya):

“Sesungguhnya segala sesuatu itu ada sebab musababnya.” (QS. Al-Kahfi: 85)

Lihatlah, bahwa segala sesuatu pasti ada sebab musababnya, maka hendaknya seseorang yang waras itu menggunakan akalnya dan selalu memperhatikan sebab yang menimbulkan akibat. Seseorang yang meninggalkan sebab berarti tidaklah memfungsikan otaknya (walaupun dalam beberapa kasus Allah memberikan sesuatu pada seorang hamba tidak melalui sebab dan bahkan berlawanan dengan sebab). Seseorang disebut tidakwaras karena otaknya tidak berfungsi dan atau berfungsi namun tidak baik.

Para pakar muslim mengatakan bahwa sisi buruk manusia adalah ketidakwarasan. Dimana ketidak warasan ini dapat ditinjau dari dua faktor:
1). Ketidakwarasan yang disebabkan disfungsi otak secara fisik;
2). Ketidakwarasan yang disebabkan kebodohan.

Secara umum seseorang yang mengalami ketidakwarasan yang disebabkan disfungsi otak secara fisik disebut sebagai orang gila, padahal istilah ini kurang tepat, alasannya jika ketidakwarasan itu disebabkan oleh disfungsi kerja otak akibat trauma dikepala, faktor genetic atau faktor lainnya, maka ia tidak selayaknya disebut gila. Kerena memang fungsi otaknya sudah terdistorsi sedemikian rupa pada level biologis / jasmani. Artinya bahwa orang tersebut mengalami cacat secara fisik. Namun berhubung kecacatan tersebut terjadi pada organ fisik yang menjadi perantara untuk memfungsikan akal, maka akalnya pun ikut terdistorsi. Hal ini menunjukkan bahwa gila pada level biologis bukan merupakan ketidakwarasan yang hakiki.

Adapun ketidakwarasan yang hakiki adalah gila yang disebabkan kebodohan. Kebodohan sangat identik dengan ketidakwarasan. Mengapa demikian ? tanpa adanya pengetahuan / ilmu maka seseorang tanpa disadari akan melakukan perbuatan-perbuatan zalim yang sesungguhnya membinasakan dan menimbulkan kerusakan di muka bumi dan celakanya orang tersebut mengira bahwa apa yang diperbuatnya adalah suatu kebaikan. Selain itu, bukankah ibadah yang bersumber dari kebodohan akan menjadi sumber pelecehan kepada Allah SWT ? Ibadah yang seperti ini hanya akan bermuara pada kesengsaraan.

Sebagai contoh mudah kegilaan hakiki adalah: Seseorang yang mau mengkomsumsi narkoba. Disini bukan merujuk pada akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh narkoba, seperti depresi, ketergantungan, madat, kematian dan sebagainya. Akan tetapi kegilaan itu sudah terjadi pada saat orang tersebut secara sadar mau mengkomsumsi narkoba untuk pertama kalinya. Artinya sewaktu dirinya mau mengkomsumsi narkoba untuk pertama kali secara sadar dan atas pilihannya sendiri, maka itulah yang disebut kegilaan hakiki. Dia mempunyai otak namun dia tidak memfungsikannya dan akalnya tidak berfungsi.

Allah berfirman (yang artinya):

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahanmu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri” (QS. Yunus: 44)

Al-Qur’an mengajari kita bahwa terdapat 3 (tiga) tingkatan jiwa manusia, yaitu:
1) Jiwa mutmainnah (yang tenang) inilah spektrum jiwa manusia pada tingkatan paling tinggi;
2) Jiwa lawwamah (yang menyesali) inilah spektrum jiwa manusia pada tingkatan netral; dan
3) Jiwa amarah biss su’ (yang buruk) inilah spektrum jiwa manusia pada tingkatan rendah.

Dalam keterkaitannya, tingkatan jiwa dengan kebodohan adalah: bahwa kebodohan selalu menyeret manusia kepada spektrum jiwa yang lebih rendah, jiwa seseorang yang fitri (netral) akan turun ke derajat jiwa yang rendah mungkin sampai pada derajat binatang seperti kera, anjing, babi dan sebagainya. Tidak hanya itu kebodohan bahkan dapat menimbulkan kematian jiwa.

Pada saat terjadi penurunan jiwa ketingkat yang lebih rendah, maka ia akan menjadi teman-teman setan. Manusia berjiwa rendah akan mendatangi sumber mata air setan. Mereka akan menjadi hambanya dan dipergunakan untuk menyesatkan manusia lain. setan akan mengilhaminya dengan ilmu pencapaian kepada harta, kekuasaan dan eksploitasi manusia agar terjadi kerusakan di bumi dan jiwa-jiwa manusia lainnya.

Ali bin Abi Thalib r.a berkata: "mereka telah memenuhi seruan setan, maka merekapun menempuh jalannya dan mendatangi sumber airnya. Dengan merekalah panji-panji setan tersebar, dan dengan mereka pula berdiri tegak benderanya. Fitnah (bujukan) setan telah membinasakan mereka."

Wahai diri… apa yang akan engkau lakukan setelah mengetahui ini ? apakah engkau akan mengisi kebodohan dan menggantinya dengan tinta pengetahuan ? ataukah engkau akan berdiam diri dan menyerah kepada takdir ? ketahuilah, jika engkau menyerah dan menggantungkan nasibmu kepada takdir maka sesungguhnya engkau sedang mengalami kegilaan.

Ali bin Abi Thalib r.a berkata: “Janganlah sekali-kali engkau bergantung pada takdir karena hal itu merupakan komoditas orang dungu dan kebodohan tentang akherat dan dunia.”

Adapun orang yang paling waras adalah orang yang berakal, berpendapat, beranggapan baik serta kiasnya sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Lalu,,,, waraskah aku ??????

Yaa Rabbku…. Hamba memohon kepada Engkau ampunan-Mu dan berikanlah kepada kami ilmu yang manfaat, Amin.



Daftar bacaan:
- Amru Khalid, Hati Sebening Mata Air. Diterjemahkan oleh Imam Mukhtar Aqwam, 2006.
- Astrid Darmawan & Muhammad Hidayat, Al-Qur’an The Ultimate Secret, Ufuk, 2008.
- Imam Al-Ghazali, Menyingkap hati Menghampiri Ilahi. Diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan, Pustaka Hidayah, 2006.


Kunci Surga

Ibarat sebuah pintu, surga membutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu ? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.

Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “ (HR. Imam Ahmad).



Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah pintu surga kita buka ? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga ? Tidak mungkin !

Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illalloh itu ? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh ! Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illalloh itu ada delapan, yaitu :

Pertama : Al-‘Ilmu (mengetahui), maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut, tetapi anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua : Al-Yaqiinu (meyakini), maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga. (HR. Muslim).

Ketiga : Al-Qobulu (manerima), maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an (yang artinya): “Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “ (QS. As-Shoffat : 35-36).

Keempat : Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh), maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illalloh dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Kembalilah ke jalan Tuhanmu, dan tunduklah kepada-Nya. “(QS. Az-Zumar : 54).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22).
Makna “menyerahkan dirinya kepada Allah” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya (ed.).

Kelima : Ash-Shidqu (jujur atau benar), maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi Sholallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya “ (HR. Imam Bukhori dan Muslim).

Keenam : Al-Ikhlas (ikhlas atau murni), maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla“ (HR. Imam Bukhori dan Muslim).

Ketujuh : Al-Mahabbah (mencintai), maksudnya anda harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang di cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya). “ (QS. Al-Baqarah : 165). Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illalloh.(ed,).

Kedelapan : Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya Anda harus mengingkari segala sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak pantas disembah-sembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).

Saudaraku kaum muslimin dari sini dapatlah anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah ! Wallahu a’lamu bish showwab !.

Dinukil dari bulletin Dakwah Al-Bayyinah, edisi 07/02/20, diolah dan disusun kembali oleh Abu Abdirrahman. (BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 13 / Shafar / 1425)

Kamis, 02 Juli 2009

Sudut Pandang yang Cerdas Terhadap Kegagalan

Sukses dan kegagalan seringkali kita anggap sebagai koin dengan dua permukaan. Kalau di satu sisi sukses, berarti sisi lain gagal. Kalau kita tidak mencoba sesering mungkin, maka kita tidak mungkin sukses. Kalau kita tidak mau menerima kegagalan sesering mungkin, maka kesuksesan pun akan sulit kita capai.


Ada sebuah kata-kata menarik yang patut kita simak:

“The difference between average people and achieving people is their perception of failure and their respond to failure.”

Perbedaan antara orang biasa dengan orang yang sangat berhasil adalah persepsi mereka tentang kegagalan dan bagaimana mereka mengantisipasi serta menyikapi kegagalan itu. Kita tahu bahwa orang-orang sukses bukan berarti tidak pernah gagal. Beberapa orang selalu bilang bahwa orang yang sukses selalu berhasil dalam bisnisnya, padahal tidak demikian kenyataannya. Orang tersebut sering juga mengalami kegagalan. Banyak bisnis yang tidak berhasil dan toko yang harus tutup karena tidak menghasilkan. Tapi semua itu adalah part of success.

Sebagian dari sukses adalah bagaimana kita merespon kegagalan itu. Kalau kita bisa melakukan adaptasi, perubahan ataupun antisipasi, maka kita bisa mencoba sesuatu yang baru. Tetapi ada saatnya dikala kita tidak bisa melakukan apa-apa dan pada akhirnya kita harus menutup bisnis yang kita jalankan tersebut dan memulai yang baru.

“An essential aspect to success is not being to fail.”

Hal yang penting untuk meraih sukses adalah tidak takut dengan kegagalan. Saya percaya bahwa setiap orang pasti pernah gagal tetapi saya juga yakin kalau setiap orang pasti pernah sukses. Kalau kita sudah mulai sadar bahwa sukses dan kegagalan tidak lain adalah seperti koin dengan dua mata, maka kita tidak perlu takut lagi terhadap kegagalan. Tetapi sebaliknya, kita harus bisa memandang kegagalan sebagai sebuah pelajaran atau sebuah guide line untuk mencoba lagi dan mencapai sukses pada saat yang akan datang. Sampai sekian dulu Business Wisdom Wismilak kali ini, semoga falsafah koin ini bisa mengilhami kita semua untuk bekerja lebih giat, demi meraih kesuksesan. Dari Pak Tanadi Santoso dengan sedikit edit.

Menulis Bisa Menyehatkan?

Dikisahkan dalam dunia pemikiran Islam modern, dikenal seorang penulis wanita; -yang tulisan-tulisannya kadang-kadang ‘menggugat’ banyak hal-, dalam kalimat yang lebih halus; ‘mempertanyakan’ banyak hal. Dalam banyak tulisannya, dia membawa pembaca bukunya, paling tidak untuk sekedar ikut bertanya juga. Nama penulis tersebut adalah, Fatima Mernissi.
Wanita yang lahir di Fez, Maroko, mempelajari ilmu politik dan sosiologi di Universitas Mohammad V, dan kemudian mengajar di universitas tersebut sejak 1974 hingga 1980. Karya-karyanya lebih banyak ditulis dalam bahasa Perancis dan Arab. Diantara karyanya yang diterbitkan dalam behasa Inggris adalah Beyond the Veil, Doing Daily Battle, Women and Islam, The Forgotten Queens of Islam, Islam and Democracy, dan Dream of Trespass.


Diantara karya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris juga telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebuah penerbit di Jerman, tak mau ketinggalan dalam mengekpos karya Mernissi, penerbit tersebut mengumpulkan sejumlah karya Mernissi dalam sebuah bunga rampai dan memberinya judul Women’s Rebellion and Islamic Memory. Karya ini terbit pertama kali di Jerman pada 1993 dan muncul versi Inggrisnya pada 1996.
Dalam setiap karyanya Mernissi, memberika paparan yang cukup panjang dan tak lupa cukup ‘tajam’. Selepas dia menulis data, dia-pun lantas menyusulinya dengan pelbagai pertanyaan yang menyentak. Menulis, bagi Mernissi, sepertinya dijadikan curahan hati dari apa saja yang mengganggu pikiran dan perasaannya. “Selama bertahun-tahun saya bertanya-tanya,” tulisnya, “mengapa sikap kami yang sederhana dan tidak menonjolkan diri, pasrah bagaikan hewan korban, senantiasa menjadi satu-satunya obsesi mereka?”
Terlepas dari pembahasan siapa kami dan siapa mereka, memang kita tidak akan melanjutkan pembahasannya. Tapi Mernissi memang menjadikan satu noktah sebagai titik pijak untuk mencari landasan tentang menulis bisa menyehatkan lantaran – didalam buku yang yang akhirnya diterbitkan oleh Mizan dengan judul Pemberontakan Wanita!: Peran Intelektual Kaum Wanita dalam Sejarah Muslim (Mizan, 1996) itu – di dalam salah satu babnya, dia mengungkapkan sesuatu yang menarik untuk kita cermati bersama.
Judulnya-pun unik: “Menulis Lebih Baik ketimbang Operasi Pengencangan Kulit Wajah”. Mernissi langsung saja berpesan kepada pembacanya, ‘Usahakan menulis setiap hari’. Niscaya, kulit anda akan menjadi segarkembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat anda bangun menulis akan meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama diatas kertas kosong, kantung dibawah mata anda akan segera lenyap dan kulit anda akan terasa segar kembali.
Dalam analisis yang dilakukan oleh seorang psikolog, melakukan penelitian selama lima belas tahun tentang pengaruh upaya membuka diri terhadap kesehatan fisik, menerbitkan sebuah buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Buku ini membahas bagaimana upaya mengungkapkan segala pengalaman yang tidak mengenakkan dengan kata-kata bisa mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang. Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya sebagai peneliti, bukan sebagai dokter atau terapis, tulis Pennebaker di awal ‘Prakata’ untuk buku karyanya.
Secara singkat, James W. Pennebaker mengemukakan bahwa menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega. Kata-kata ini didukung oleh hasil penelitiannya: orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis, menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh.
Dalam tulisannya, masih berkaitan dengan penelitian dr pennebaker; manfaat menulis adalah:
1.menulis menjernihkan pikiran
2.menulis mengatasi trauma
3.menulis membantu membantu mendapatkan informasi baru
4.menulis membantu memecahkan masalah.